Jumat, 03 Juli 2020

Fanfic SasuSaku: Pilot of My Hearth


Chapter 1 - P

DLDR
.
.
.
"hei kau! Berhenti disana atau aku akan melemparmu keluar dari ketinggian tiga puluh lima ribu kaki. "

Seorang pramugari dengan paras cantik dan tubuh semapai mengancam seorang pria paruh baya yang berusaha melarikan diri dari kejaran pramugari.
Pria itu berhenti dengan wajah takut dan badan gemetar. "Apa salahku? Aku hanya suruhan dan dibayar. Aku membutuhkan uang untuk biaya pengobatan putriku yang sedang sakit." ia membela diri dengan wajah memelas.

"Berhenti dan menurut atau aku benar-benar akan melemparmu! Jika kau membutuhkan uang, seharusnya kau bekerja. Bukan malah membawa bom ditasmu! Itu berbahaya asal kau tahu! Nyawa dua ratus tujuh puluh penumpang dalam bahaya sekarang, apa yang akan kau lakukan, hah?! " hilang sudah kesabaran Sakura Haruno, pramugari cantik tadi. Pria itu tertunduk.

Sakura menghela napas. "Berapa lama lagi?"

"Um.. Aku memasangnya enam menit yang lalu, hanya tersisa dua puluh empat menit lagi," pria itu menjawab dengan nada takut karena tatapan semua pramugari dan penumpang yang berada di ekonomy class.

"......" hening.

"Haruno - san, bagaimana ini? " - Precilia William, terlihat risau. Gadis blesteran Inggris-Jepang ini dikenal tidak bisa mengontrol rasa takutnya. Kok bisa jadi pramugari?

"Jangan panik, hubungi kapten Nara! " Sakura berjalan mendekati pria itu. "Harus aku apakan, kau?"

Pria itu terlihat ketakutan, "Maafkan aku." suaranya terdengar lirih membuat Haruno Sakura mendesah pelan. Dibantunya pria itu berdiri dan dituntun menuju bisnis class dimana masih tersisa beberapa bangku kosong.

"Duduklah." Sakura mendudukan pria itu. "Siapa namamu?"
"...Kazaki,"
"Marga?"
"Yamachi," jawabnya pelan. Sakura terbelalak kecil.

"Ah, apa aku harus berbicara sopan padamu? " Sakura menanggapinya dengan senyuman.

"Tak perlu, keluargaku bahkan tak pantas menerima rasa hormat ataupun sopan dari orang lain" Sakura hanya mengangguk kecil.

Seorang pramugari datang ke hadapannya, "Haruno - san , Kapten Nara akan melakukan pendaratan darurat di Sanghai, 10 menit lagi" Sakura mengangguk paham.
"Ambilkan minum untuknya! Aku akan memberitahu penumpang," sebagai seorang manager kabin, hal ini adalah tanggung jawabnya.

"Perhatian! Karena keadaan darurat, pesawat ini akan mendarat di Sanghai International Airport. Sekali lagi, karena keadaan darurat pesawat akan mendarat di Sanghai International Airport. Harap pasang sabuk pengaman anda untuk keselamatan. "

Suara Sakura terdengar di penjuru kabin.
Sementara di kamar mandi, tempat bom itu berada. Hanya tersisa dua puluh menit lagi. Semoga masih sempat.

"Apa tujuanmu melakukannya? " tanya Sakura. Dipandangnya Kazaki dengan sorot ingin tahu.

"Disini ada penumpang, namanya Fugaku. Aku punya misi untuk menghabisinya." Sakura termenung sesaat. Kemudian menghela napas.  Hal ini mengundang tatapan dari rekannya.

"Anda mengenalnya, Haruno - san."
Hana, pramugari disebelahnya bertanya dengan nada ingin tahu. Sakura melirik sebentar.
"Dia.... "
"Haruno - san!! " ucapan Sakura terhenti karena teriakan salah satu pramugari yang tadi ia suruh menghubungi Kapten Nara lewat interkom.

"Jangan berteriak, Nagi" tegur Sakura pada gadis berambut pendek yang sedang berjalan cepat kearahnya. "Ada apa? "
"Kita tidak bisa mendarat dalam waktu lima belas menit. Landasan 31 ada pesawat mogok dan menara kontrol masih mengaturnya." jelas Nagi dengan raut khawatir.

"Bagaimana bisa mogok?"
"Suhu di Sanghai dibawah dua puluh delapan derajat membuat mesin pesawat membeku"

Sakura mendekat ke interkom, "Shikamaru, apa tidak ada landasan lain? Kita hanya punya waktu dua puluh menit. " Sakura mendesak kapten penerbangan. Semua pandangan tertuju kearahnya, Shikamaru?

"Mesin derek sedang membawa pesawat itu 
menyingkir. Hanya lima menit." Shikamaru menjawab dengan tenang. Membuat Sakura harus menahan bogeman untuknya nanti. Hei, mereka bersahabat. Tenang saja.
"Baiklah. Lima menit,"
.
.
.
.
Kokpit.
Captain Shikamaru Nara
Co-captain Kiba Inuzuka

"Sanghai tower, Sanghai tower. This is flight 322, JA 215 from Narita Airport to Paro Airport, Bhutan. requesting an emergency landing on runway 31. How are things there?" Kiba menghubungi menara control.
"JA 215, this is the sanghai tower. fly around three thousand feet high. We are here trying to bring the Boeing 777 from Runway 31"

"AY-firm"

"bagaimana? " Shikamaru masih memegang kontrol.

"Terbang memutar dengan ketinggian tiga ribu kaki, mereka sedang berusaha menarik boeing 777 dari landasan 31."

"Mendokusai na" Shikamaru mengecek ketinggian pesawat, hampir mendarat. 

"Three thousand feat high!"
"Three thousand feet high, confjrm." balas Kiba . 
"Sampai kapan kita akan berputar? "
"Kau yang menghubungi tower, sialan! " balas Shikamaru sengit. Sementara Kiba hanya menyengir sebagai balasan.

Ding

"Ya, Kapten Nara disini" jawab Shikamaru kepada interkom yang berada di telinganya yang menghubungkan kokpit dengan kabin.
"Shikamaru, ini akan meledak sepuluh menit lagi. Tidak bisakah kita mendarat? Ini sudah lebih dari lima menit" suara Sakura terdengar. Shikamaru menatap jam tangan yang berada di pergelangan.
"Tunggu sebentar Sakura. Kita tidak bisa ambil resiko. Jikapun kita mendarat sekarang maka sama berbahaya dengan ledakan bom."
"Apa tidak ada cara lain?"
Shikamaru terdiam, matanya menerawang kedepan yang dimana memperlihatkan langit biru.
"Shika, kita bisa membuka pintu darurat." Kiba menyahut dengan ekspresi -aku sangat berguna- nya.
Hal itu membuat Shikamaru terdiam.
"Kita akan mengalami dekompresi jika pintu dibuka. Lagipula... -"
"Tidak Shika, kita tidak berada diketinggian jelajah. Jadi, tidak akan menyebabkan dekompresi eksplosif. Hanya melempar tas bom. "  Sakura memotong ucapan Shikamaru.
"Sakura benar." sahut Kiba yang memberi saran? Shikamaru terdiam.
"Baiklah, aku akan membawa pesawat ini ke lembah terdekat. " putus Shikamaru. "Kiba hubungi tower! Sakura, kau bisa membuka pintu darurat, kan?"
Dari sana Sakura mengangguk, "ya! Aku akan meminta bantuan kepada yang lain. Terima kasih kapten." setelahnya sambungan telepon kabin terputus.
"Kiba, kau bisa mengecek keadaan?"
Kiba menangguk, "Aku akan membantu Sakura. Kau tau, dia adalah pramugari kesukaanku jadi aku harus menolongnya. Yoshh! "
Banyaklah songeh kau!
.
.
.
.
"Kajou- san, bantu aku membuka pintu darurat! Dan bawa tas itu" Sakura berbicara dengan tenang, dalam situasi ini pun harus tenang jika tidak maka penumpang akan panik. "Nagi, tolong beritahu penumpang jika kita akan membuka pintu darurat. Pastikan mereka mengerti cara memakai masker oksigen jika sewaktu-waktu terjadi dekompresi eksposif, " jelas Sakura.

"Baik, Haruno - san. " setelah itu Sakura pergi bersama pramugara bernama Kajou.

"Ladies and gantleman, we will open the emergency door. therefore, we urge passengers to wear oxygen masks in the event of explosive decompression. Our cabin crew will give instructions. please cooperation, thank you."

semua awak kabin berdiri di samping dan depan bangku penumpang untuk memberikan arahan.

Sementara itu Sakura dan Kajou. "Kita akan membuka pintu darurat yang berada di dekat dapur. Disana ada pengaman seperti pegangan dan telepon kabin, jadi kapten Nara bisa memberitahu jika kita sudah sampai lembah. jadi ketika kapten Nara sudah memberitahu, kau buka pintu ini. Jangan lupa berpegangan agar kau tidak terhempas keluar." jelas Sakura dan dibalas anggukan dari rekannya.

"Tersisa berapa menit lagi?! " tanya Sakura pada Kajou yang tengah membawa tas itu. Kajou membukanya, terlihat timer berwarna merah menunjukan waktu berjalan kurang dari lima menit.

"Apa kita masih sempat, Haruno - san? " Kajou nampak tegang. Sakura menepuk bahu Kajou dengan disertai senyum menenangkan. "Kita pasti bisa! Yakinlah pada Kapten."

Ding

"Halo, manager kabin Sakura Haruno. " Sakura mengangkat telepon kabin. Pasti dari Kapten Nara.

"Tiga menit lagi kita sampai lembah terdekat. Berapa waktu tersisa.?" tanya Shikamaru dari kokpit.

"Hanya tersisa tiga menit juga."

"Jangan putuskan telepon! Aku akan 
memberitahumu. Untuk itu bisa kau buka pintu darurat?"

"Baiklah" Sakura memberi kode pada Kajou untuk membuka pintu. Dengan ekstra tenaga Kajou membuka pintu.

Wushhh

Tekanan udara mulai terasa, Sakura dan Kajou berpegangan pada pengaman yang berada dekat pintu. Mencoba bertahan dari hempasan angin. "Berapa lama lagi Shikamaru?" tanya Sakura dengan suara keras. Pasalnya angin sangat kencang dan seolah menyedot oksigen yang berada diparu-parunya.

Timer bom terus berjalan menunjukan waktu tinggal lima belas detik lagi. "Dua belas detik lagi, Shika! " teriak Sakura.
.
.
.
.
Kabin

Para penumpang tengah menggunakan masker oksigen dengan rasa penuh ketakutan. Seolah bom benar-benar akan menghancurkan pesawat ini.

Boomm!!

"Aaaa! " sebagian penumpang berteriak terkejut. Suara ledakan begitu keras hingga membuat pesawat terguncang.
Beberapa saat kemudian keadaan mulai kondusif, udara mulai normal hingga penumpang tak perlu memakai masker oksigen.

"Haruno - sanKajou - sanKalian baik-baik saja? " seorang pramugari menghampiri Sakura dan Kajou. Terlihat Sakura dengan rambut acak-acak karena angin dan seragam pramugari dengan atribut tidak rapi. Sementara Kajou terlihat lebih berantakan dengan jas terbuka memperlihatkan kemeja yang keluar dari celana, dasi hampir terlepas dari kerahnya dan rambut seperti tersengat listrik.

"Ouh, kalian terlihat kacau."

"Bagaimana keadaan penumpang?" tanya Sakura langsung tanpa menyahut ucapan pramugari tadi.

"Semua baik-baik saja. Mereka hanya sedikit takut saat pesawat terkuncang. " jawaban pramugari itu membuat Sakura menghela napas lega. Atensinya teralih kepada Kajou yang sedari tadi mengambil napas banyak -banyak dan terduduk lemas
.
"Kajou - san! Kau baik-baik saja?" tanya Sakura panik. Pasalnya Kajou nampak seperti tidak bisa bernapas.

"Ambilkan oksigen! " perintah Sakura. Pramugari itu segera berlari kearah dapur tempat menyimpan alat medis. Sakura meraih Kajou dan meletakan kepalanya di paha. Mencoba membuat Kajou lebih nyaman.

"Bertahanlah!"
"Haruno - san! Ini oksigennya. Nagi menyerahkan oksigen itu dengan tergesa.
"Oksigen ini tidak akan bertahan lama." ujar Sakura sambil memompa oksigen itu. Kajou nampak lebih tenang namun masih berusaha bernapas dengan baik.
"Tanya apakah ada dokter disini! "
.
.
.
.
"Para penumpang yang terhormat. Terdapat pasien darurat di penerbangan ini. Jika diantara anda sekalian ada seorang dokter, mohon untuk memberitahu pramugari kami. Terima kasih"

"Permisi, nona. Saya adalah seorang dokter." seorang pria berwajah tampan menghampiri Nagi yang sedang berjalan sembari menanyai apakah ada dokter disini.

"Ah, syukurlah. Mari tuan ikut saya." pria itu mengikuti Nagi menuju bilik dimana Kajou dan Sakura berada.
Sesampainya pria itu dibilik. "Tolong selamatkan dia! " pinta Sakura dengan nada panik. Pria itu lekas memeriksa Kajou yang nampak kesusahan bernapas.

"Oksigen ini tidak akan bertahan lama jika kondisinya seperti ini. Bisakah kita lekas mendarat? " dokter itu berujar sembari menatap Kajou yang beralih dipangkuan Nagi.

Ding

"Kapten Nara berbicara disini. Bagaimana kondisi di kabin?"

"Shikamaru! Tambah kecepatan pesawatnya. Kajou mengalami sesak napas setelah membuang bom itu. Oksigen di kabin tidak akan bertahan lama." Sakura berbicara dengan panik dan tergesa. Pandangannya tak teralih sedikitpun dari Kajou yang tidak bisa bernapas dengan dokter tengah memeriksanya.

"Dikokpit masih ada dua oksigen. Kau bisa gunakan itu sementara aku akan segera membawa pesawat ini mendarat."

"Baiklah. Aku akan membawa Kajou kesana." Sakura menutup telepon kabin dan lekas memberitahu dokter itu. Mereka membawa Kajou menuju kokpit.

"Kiba, beritahu tower untuk menyediakan ambulans! " perintah Shikamaru. Ia lekas mengatur ketinggian pesawat agar cepat sampai bandara.

"Sanghai tower, Sanghai tower. this is flight 322, JA 215 from Narita Airport to Paro Airport, Bhutan. emergency patients here, please provide our ambulance to land soon."

"Kita akan mendarat. Tolong pakai sabuk pengaman kalian." ujar Shikamaru kepada penumpang darurat di belakang kursinya.
.
.
.
.
"Sanghai tower, Sanghai tower. this is flight 322, JA 215 from Narita Airport to Paro Airport, Bhutan. we request landing priority on runway 31."

"this is Saghai tower. permission is given for landing priority on runway 31. we have prepared ambulances and police in the appron"

"AY-firm! "
.
.
.
.
"Wah kau lihat tadi, sangat menegangkan. Pramugari tadi sangat berani ya."

"Iya, tapi syukurlah kita semua selamat."
"Penyeludup itu sudah ditahan polisi. Sementara pramugara tadi lekas dibawa ke rumah sakit."
Ucapan penumpang tumpang silir. Mereka membicarakan kejadian tadi dipesawat. Banyak diantara mereka yang masih syok dan ketakutan, namun pramugari sudah menenangkan mereka meskipun mereka sendiri juga ketakutan.

"Sakura." seorang pria paruh baya menghampiri Sakura yang masih berdiri dan berbincang dengan petugas ambulan. Terlihat Sakura mengangguk ketika petugas itu bertanya apa ia baik-baik saja.

Menoleh, "Ah, Uchiha - sama." Sakura membungkuk hormat pada pria berwajah datar itu. Uchiha Fugaku berdiri dengan didampingi beberapa bodyguard. Orang sukses beda yah.

Matanya memandang Sakura tajam, merasa tak senang dengan panggilan Sakura padanya. Hal itu membuat Sakura bergidik takut dan gugup sekaligus.

"Ahhaha, maksud saya Otou-sama." lanjutnya dengan nada cangung. "Anda baik-baik saja?" tanya Sakura. Suara deru mobil ambulan dan sirine terdengar ketika ambulan yang membawa Kajou menjauh.

"Aku baik-baik, saja. Kau juga nampaknya." jawab Fugaku khas dengan gaya nya yang berbicara singkat. Sakura hanya tersenyum seraya mengangguk. "Kau sangat hebat. Kuharap dia melihatnya." Fugaku berkata dan segera berlalu diikuti bodyguardnya.
Sakura tersenyum tipis. Ya, Sakura harap ia melihatnya. 

"Ekhem.. Ternyata dia ayah mertuamu?" goda Precilia dan Nagi yang tertawa geli di sampingnya. Membuat Sakura hanya tersenyum malu. "Jadi dimana suamimu?" tanya Nagi.

Sakura hendak menjawab tetapi  sudah disela oleh Nagi. "Apa dia tampan? Ayahnya tadi juga tampan walaupun sudah tua dan mukanya itu datar sekali." buru-buru Nagi menutup mulutnya yang asal bicara itu. Memandang Sakura dengan mata 
menyesal. Sakura hanya menggeleng pelan. 

"Tak apa. Memang Otou-sama selalu begitu, tapi sebenarnya dia baik dan perhatian." jawab Sakura.
Setelahnya mereka berbicara sembari berjalan. Tak lupa godaan Precilia dan Nagi yang pelak membuat Sakura menahan malu sekaligus kekesalannya.
.
.
.
.
To be continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar