Chapter 2 - I
DLDR
.
.
.
.
.
.
Narita Airport
Tuesday, 21 March 2020
Tuesday, 21 March 2020
Sakura Haruno, seorang Cabin Manager di Maskapai Royal Sky Airlines.
Sudah meniti karir sebagai Pramugari selama dua tahun dengan masa Trainee tiga bulan dan junior selama satu tahun dan sehingga menjadi Cabin Manager enam bulan yang lalu. Jangan ditanya lagi berapa pengalaman tak terduga yang dialami gadis ini selama dua tahun di dunia penerbangan. Jika kalian bisa bertanya pada Sakura Haruno, saya persilahkan untuk bertanya bagaimana rasanya menjadi seorang Pramugari senior?
Sudah meniti karir sebagai Pramugari selama dua tahun dengan masa Trainee tiga bulan dan junior selama satu tahun dan sehingga menjadi Cabin Manager enam bulan yang lalu. Jangan ditanya lagi berapa pengalaman tak terduga yang dialami gadis ini selama dua tahun di dunia penerbangan. Jika kalian bisa bertanya pada Sakura Haruno, saya persilahkan untuk bertanya bagaimana rasanya menjadi seorang Pramugari senior?
"Berhenti seperti itu! Kalian membuatku malu." ujar Sakura pada dua temannya yang sedari tadi menggodanya. Precillia terkekeh, gadis dua puluh tahun itu tergelak seketika. Merasa lucu dengan reaksi tak terduga Sakura. Tak disangkanya ternyata senior yang ia kagumi selama ini bisa malu seperti ini. Bahkan mengatakannya secara gamblang. Biasanya galak, ya?
"Haruno - san, kau sangat lucu. " Nagi ikut tergelak. Membuat Sakura tambah malu.
"Berhenti bicara seperti itu. Aku mau pergi menjenguk Kajou- san dirumah sakit." Nagi hendak bicara sebelum Sakura
menyelanya, "Dan satu lagi, aku belum menikah! "
Setelahnya tanpa menunggu reaksi dari dua rekannya itu, Sakura berjalan pergi. Meninggalkan Nagi dan Precillia yang menampakan ekspresi bodoh.
.
.
.
"Kudengar, putra bungsu tuan Uchiha akan kembali dari Australia minggu depan." Ayah menampilkan ekspresi bahagia setelah mengatakannya. Kopi pahit didepannya tak menjadi alasan untuk tidak tersenyum bahagia.
.
.
.
"Kudengar, putra bungsu tuan Uchiha akan kembali dari Australia minggu depan." Ayah menampilkan ekspresi bahagia setelah mengatakannya. Kopi pahit didepannya tak menjadi alasan untuk tidak tersenyum bahagia.
Sakura hanya diam dan melanjutkan makan malamnya. Kali ini ia harus makan malam dengan tenang karena terakhir kali ia makan malam dirumah, ia harus memberikan jatah makan malamnya pada Kakaknya yang pulang dari luar negeri secara mendadak. Mendengarkan Ayahnya bicara adalah hal yang terbaik untuk saat ini.
"Iya, Mikoto sudah memberitahuku tadi," Ibu ikut menyahut. Sementara manusia merah disamping tempat duduk Sakura tengah mengawasi gerak gerik sang adik. Membuat Sakura risih.
"Jangan menatapku seperti itu, atau kau akan jatuh Cinta padaku, Nii-sama! " Sasori mendengus.
"Aku penasaran bagaimana reaksimu mendengar berita ini." jawab Sasori. Boro-boro bereaksi, ia saja tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Jangan bertanya kenapa? Bukannya Sakura tidak menginginkan hal ini, tapi Sakura saja belum pernah melihat bagaimana rupa pria itu. Bagaimana aku harus menyebutnya? Calon Suami?
"Aku sudah tahu." Ayah, Ibu, dan Kak Sasori langsung menatapku. Terdiam sepi.
Membuatku harus menghentikan makanku dan bergantian menatap mereka.
Membuatku harus menghentikan makanku dan bergantian menatap mereka.
"Kenapa?"
"Darimana kau tahu? Apa kau sud-"
"Aku bertemu dengan Otou-sama kemarin. Kami berada di penerbangan yang sama menuju Buthan. Kami berbincang sebentar sebelum ia pergi melanjutkan perjalanan bisnisnya. Jangan berpikir yang aneh-aneh, Nii-sama" sela Sakura sebelum Sasori berbicara yang tidak-tidak. Sasori menyipitkan matanya, curiga.
"Yahhh.. Aku rasa adikku ini sudah mulai akrab dengan calon mertua. Sebaiknya aku beritahu Itachi." selepasnya, Sasori berlari ke kamar dan mengunci pintu.
Ayah dan Ibu masih menatap Sakura.
"Ada apa Tou-sama? Kaa-sama?" mengabaikan rasa risihnya ditatap seperti itu, ia bertanya pada dua orang yang paling disayanginya itu.
"Ada apa Tou-sama? Kaa-sama?" mengabaikan rasa risihnya ditatap seperti itu, ia bertanya pada dua orang yang paling disayanginya itu.
"Apa kau sudah menerima ini? " tanya Ayah. Sakura terdiam sejenak, menatap ayam goreng didepannya. Menghela napas.
"Ya, aku mencoba menerimanya. Awalnya aku sangat tidak setuju. Lagipula aku belum pernah melihat pria itu dikeluarga Uchiha. Hal itu membuatku takut." Sakura mengambil air putih di meja. Meneguknya. Mencoba menghilangkan perasaan aneh yang dirasakannya.
"Syukurlah. Sebentar lagi kau akan melihatnya, Sakura." Ibu ikut berbicara. Sakura hanya mengangguk.
Tak perduli bagaimana rupanya dan apa pekerjaannya, ia akan belajar menerimanya. Sakura harus terima apapun yang Ayah dan Ibunya lakukan, selama itu untuk kebaikannya sendiri. Karena Sakura sangat menghormati kedua orang tuanya dan Sakura yakin pilihan Ayah dan Ibu adalah yang terbaik.
Tak perduli bagaimana rupanya dan apa pekerjaannya, ia akan belajar menerimanya. Sakura harus terima apapun yang Ayah dan Ibunya lakukan, selama itu untuk kebaikannya sendiri. Karena Sakura sangat menghormati kedua orang tuanya dan Sakura yakin pilihan Ayah dan Ibu adalah yang terbaik.
Setelah makan malam, Sakura kembali ke kamar yang berada di lantai dua dan bersebelahan dengan kamar Sasori. Mumpung Sakura sedang tidak ada kerjaan, ia memutuskan untuk mengunjungi Kakaknya. Tanpa mengetuk pintu, Sakura langsung masuk kamar.
"Nii-sama? " panggil Sakura, karena kamar bernuansa cokelat itu kosong ia berteriak memanggil. Tak ada jawaban. Sakura berjalan menyisiri kamar. Sampai didepan pintu kamar mandi, ia mendengar gemericik air dan senandung. Rupanya Sasori sedang mandi.
Memutuskan untuk menunggu, Sakura duduk ditempat tidur dan membaca buku milik Kakaknya itu.
"Economy Business. Astaga Nii-sama benar-benar anak Tou-sama. " Sakura bergumam setelah membaca buku tebal yang berada dikasur Sasori.
Sasori Haruno, pria usia dua puluh tujuh tahun. Beda enam tahun dari Sakura. Sasori adalah seorang pria karir yang sukses. Ia menjalankan bisnis Ayahnya yang bergerak dibidang Real Estate dan Properti. Perusahaannya sudah berkembang pesat setelah Sasori yang mengelolanya. Hampir setara dengan perusahaan milik keluarga Uchiha.
Haruno Company, sudah memiliki banyak cabang di beberapa Prefektur di Jepang seperti Kyoto, Osaka, Ibaraki, Chiba, Fukouka, Yamanashi, Kansai, Tohoku, Ishikawa, dan beberapa kota besar lainnya.
Selepas Sasori yang menjadi Presiden Direktur di Haruno Company, Ayah lepas tangan dan menyerahkan semuanya pada Sasori. Awalnya, Ayah ingin Sakura juga memegang kendali perusahaan, namun Sakura tidak mau dan memilih berkarir dibidang lain.
Asal kalian tahu, Sasori masih melajang alias jomblo. Katanya sih tidak mau berurusan dengan perempuan dulu sebelum ia merasa serius dan mapan. Sasori memang sudah mapan secara finansial tapi belum dengan mentalnya. Sebaiknya kita tunggu kabar baik dari Sasori saja.
"Astaga! Apa yang kau lakukan disini, Sakura?" Sasori keluar dari kamar mandi dengan handuk membalut bagian bawahnya. Dada telanjang dengan otot di perut dan lengannya terlihat jelas. Ditambah lagi dengan air yang masih menetes, uhh.. sangat seksi. Hei! Jangan berpikir yang seperti itu atau kalian akan mimisan nanti.
"Aku bosan, Nii-sama. Temani aku berbincang." Sakura menatap penuh harap pada Sasori, membuat Sasori tak tega. Dengan senang hati ia mengangguk mengiyakan.
"Baiklah. Aku akan berpakaian terlebih dahulu." Sasori berjalan menuju lemari pakaian yang berada tak jauh dari tempat duduk Sakura.
"Apa kau akan berpakaian didepanku, Nii-sama?" Sakura masih menatap Sasori dengan pandangan datar. Astaga apa dia tidak merasa malu?
Melihat pria seksi dan tampan macam Sasori tengah telanjang dada didepannya. Satu ruangan pula. Apa Sakura tidak ada takut-takutnya kalau Sasori berbuat yang tidak-tidak padanya?
Melihat pria seksi dan tampan macam Sasori tengah telanjang dada didepannya. Satu ruangan pula. Apa Sakura tidak ada takut-takutnya kalau Sasori berbuat yang tidak-tidak padanya?
Oh, Aku lupa. Jika saja Sasori melakukannya, maka aku pastikan Sasori akan menginap dirumah sakit selama seminggu dengan tulang hidung patah. Wah...
"Tentu saja jika kau tidak keberatan." Sasori menyeringai mesum. Sakura hanya menatapnya lempeng.
"Oh.. Baiklah, aku akan melihatnya." Ia memperbaiki posisi duduknya menjadi berbaring tengkurap dengan posisi menatap Sasori. Apakah Sasori berani?
"Kau selalu bisa membuatku tidak berkutik. Jahat." Sasori menggerutu dan segera kembali ke kamar mandi dengan membawa pakaiannya. Hal itu mengundang tawa geli dari Sakura.
Setelah beberapa lama, Sasori keluar dari kamar mandi dengan pakaian piyama gelap. Dengan rambut masih basah dan handuk yang tersampir dileher. Sasori menghampiri tempat tidur dan duduk disamping Sakura.
"Ada apa?" tanya Sasori membuka pembicaraan. Sakura berdiri tanpa suara dan keluar kamar Sasori.
Sasori hanya diam, ia tahu Sakura akan berganti piyama dan kembali kemari.
Beberapa menit kemudian Sakura kembali dengan memakai piyama merah muda dengan motif beruang putih. Rambut merah muda sepunggung digerai. Duh, imutnya...
Mengambil tempat duduk disamping Sasori. "Nii-sama, aku takut. Bagaimana jika pria Uchiha itu jelek? Kau tahu, Itachi- Nii sama saja keriput begitu. Bagaimana dengan saudaranya? " curhat Sakura dengan raut wajah yang imut. Membuat Sasori tak tahan dan mencubit pipinya.
"Uuhh.. Adikku ini sangat mengemaskan." Sasori menggoyangkan pipinya ke kanan kiri. Hal itu membuat Sakura sebal dan menatap tajam kakaknya. "Haha.. Maaf maaf. Tenang saja, aku yakin Uchiha bungsu itu sangat tampan. Asal kamu tahu, Itachi sangat tampan saat masa kuliah dulu. Dia bahkan dikerubungi banyak perempuan setiap hari." Sasori mengambil buku yang dipegang Sakura tadi. Hanya membukanya tidak dibaca.
Sakura menyipit, "Bagaimana kau begitu yakin jika Pria itu sangat tampan? Aku bahkan tidak tahu namanya? Nii-sama tahu? " tanya Sakura. Sasori hanya mengangguk.
Masih terlihat jelas raut gelisah dari adiknya itu. Membuat Sasori menyeringai penuh misteri.
Masih terlihat jelas raut gelisah dari adiknya itu. Membuat Sasori menyeringai penuh misteri.
"Bagaimana jika kita taruhan?" tantang Sasori. "Jika dia jelek maka kau harus membayar tiket perjalanan bisnisku dua minggu ke depan ke Italia." lanjutnya. Sakura terdiam sejenak. Memikirkan saldo tabungan direkeningnya.
"Jika dia tampan?" tanya Sakura.
"Aku akan membawamu ke Okinawa minggu depan dan ikut aku ke Italia selama tiga hari setelahnya. Kau bebas membawa siapapun." tawarnya. Wahh.. Menggiurkan. Tunggu! Ada yang salah?
"Sama saja aku yang membayar tiket ke Italia!" Sakura berseru kesal. Sasori tertawa keras. Menyenangkan sekali mengerjai adiknya ini.
"Baiklah baiklah. Jika kau kalah kau harus membawa calon suami ikut kita ke Italia besok."
"Setuju! " tanpa berpikir panjang Sakura setuju dengan taruhan itu. Tak peduli lagi seperti apa rupa calon suaminya itu asalkan ia bisa ke Italia gratis. Asal kalian tahu, selama dua tahun menjadi pramugari Sakura tak pernah sekalipun menginjakan kaki di negara pisa itu. Itu adalah negera yang paling ingin dia kunjungi. Dan sekarang, taruhan Kakaknya akan membawanya ke Italia jika ia menang tentunya tanpa harus membawa calon suaminya itu. Kesempatan bukan? Tapi jika ia kalah, sama saja dia akan pergi ke Italia namun bersama calon suaminya itu. Perduli setan, yang penting Sakura akan ke Italia.
"Baiklah. Sekarang pergilah tidur. Besok kau ada penerbangan, kan?" Sasori menepuk pucuk kepala Sakura kemudian berbaring. Sakura mengangguk, tapi ia malah beringsut mendekati Sasori. Diletakkannya kepala merah muda miliknya ke bantal sebelah Sasori. Heran, Sasori hanya bisa bertanya.
"Kenapa?" tanyanya. Sakura beringsut memeluk Sasori. Ia berbaring di dada Sasori. Tanpa banyak bicara, Sasori membalas pelukan Sakura. "Manja sekali kau hari ini. Biasanya juga ngajak berantem? "
"Aku ingin tidur bersama Nii-sama hari ini. Aku tidak tahu kapan lagi bisa tidur denganmu. Aku akan sibuk beberapa hari kedepan. Mungkin tidak pulang." Sakura memejamkan mata tapi tidak tertidur. Sasori hanya diam dan mengelus rambut adiknya.
"Kemana kau akan pergi besok?" tanya Sasori setelah beberapa saat terdiam.
"Florida."
"Emm.. Aku juga mungkin beberapa hari kedepan akan lembur. Ada sedikit masalah diperusahaan ayah."
Sakura mendongak menatap Sasori, namun hanya dagunya yang terlihat. Uhh.. Tinggi sekali kakaknya ini. "Jangan terlalu lelah atau kau akan sakit." Sakura mengeratkan pelukannya.
"Baiklah, tuan puteri. Mari kita tidur." Sasori membalas memeluk Sakura dan memejamkan mata.
Malam ini adalah malam terbaik bagi Sasori, karena bisa menghabiskan malam bersama adik tersayangnya. Ia tertidur dengan senyum Indah.
.
.
.
.
Queensland, Australia.
Emerald Airport, Qantas Air 373.
09:10 a.m
.
.
.
.
Queensland, Australia.
Emerald Airport, Qantas Air 373.
09:10 a.m
"Nice landing, Captain." Jordan Luke, co-captain Qantas Air 373 Maskapai Qantas Airline. Pria Australia dua puluh satu tahun. Tampan, mapan, baik pula.
"Hn," pria muda tampan dengan rambut raven membingkai wajah tampannya. Sasuke Uchiha, Captain Qantas Air 373 Maskapai Qantas Airline. Salah satu maskapai terbaik Autralia dan urutan empat maskapai terbaik dunia menurut Skytrax.
"Apa kau benar akan pindah, Kapten? Akan sangat menyenangkan jika kau tetap di Qantas." Jordan menatap Sasuke sembari melepas headphone yang terpasang di telinganya.
Sasuke hanya melirik dan mengangguk, "Ya, aku harus pindah." singkatnya.
"Kenapa?"
Sasuke menandatangani papan jurnal.
"Ayahku ingin aku kembali ke Jepang dan bekerja di Maskapainya." jawab Sasuke serta menyerahkan papan jurnal itu pada Jordan.
"Sayang sekali. Semoga kau sukses disana, Kapten. Ngomong-ngomong kapan kau akan berangkat?"
Melepaskan sabuk pengaman dan lekas keluar kokpit. Sasuke berjalan keluar diikuti Jordan. "Minggu depan, aku akan bersamamu dihari keberangkatanku."
"Apa kau akan mengemudi atau menjadi penumpang?" Sasuke berhenti dan menatap Jordan. Tatapan datarnya menjadi jawaban Sasuke. Tanpa bertanya lagi Jordan mengerti dan mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan ke terminal.
"Dua hari kedepan adalah hari terakhir aku disini. Jadi mohon kerjasamanya." Sasuke Uchiha membungkuk sekilas pada Jordan setelah itu meninggalkan Jordan yang menampilkan wajah ternganga. Tak menyangka kaptennya itu bisa sopan seperti ini.
.
.
.
.
Queens Wharf Residence
11:21 a.m
.
.
.
.
Queens Wharf Residence
11:21 a.m
Setelah penerbangan selama dua hari dari London, pulang pergi. Membuat Sasuke kelelahan, sehingga saat tiba di apartemen dia langsung merebahkan diri di kasur.
"Lelah sekali." gumam Sasuke. Ia beranjak dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia makan malam.
"Astaga! Tidak ada apa-apa." Sasuke hanya melihat beberapa buah tomat yang terlihat masih segar. Merasa malas untuk keluar mencari makan, Sasuke memutuskan untuk makan tomat yang berada di lemari es.
Sembari memakan buah atau bisa disebut sayuran kesukaannya, Sasuke meraih ponsel pintar dari tas pilotnya. Sejak penerbangan pulang kemarin ia tidak memegang ponsel sama sekali.
Dinyalakannya ponsel dan menonaktifkan mode pesawat. Setelah beberapa saat menyala, masuklah banyak notif pesan.
Sasuke menhela napas membaca pesan dari ibu dan kakaknya. Disitu mengatakan agar Sasuke cepat pulang.
"Menyebalkan"
Sebenarnya Sasuke tidak ingin kembali jika bukan karena permintaan Ayahnya. Ayahnya itu mengancam akan mencabut lisensi pilot milik Sasuke jika ia tidak pulang. Tipe seperti Ayahnya ini sangat cocok dengan Ibunya yang suka mengancam juga. Semoga Sasuke tidak meniru kedua orang tuanya ini.
Pesan terakhir yang dibacanya adalah dari kakaknya, Itachi Uchiha.
Sasuke! Cepatlah pulang sebelum calon adik iparku dibawa pria lain. Tadi aku melihat adik iparku itu dirumah sakit bersama seorang pria. Pulanglah bodoh!
Sasuke mendengus. 'Adik ipar' katanya. Sasuke menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. Mata hitamnya menatap langit-langit ruangan. "Sakura, ya?"
.
.
.
.
To be continue
.
.
.
.
To be continue