Jumat, 03 Juli 2020

Chapter 2 - I

DLDR
.
.
.
Narita Airport
Tuesday, 21 March 2020

Sakura Haruno, seorang Cabin Manager di Maskapai Royal Sky Airlines.
Sudah meniti karir sebagai Pramugari selama dua tahun dengan masa Trainee tiga bulan dan junior selama satu tahun dan sehingga menjadi Cabin Manager  enam bulan yang lalu. Jangan ditanya lagi berapa pengalaman tak terduga yang dialami gadis ini selama dua tahun di dunia penerbangan. Jika kalian bisa bertanya pada Sakura Haruno, saya persilahkan untuk bertanya bagaimana rasanya menjadi seorang Pramugari senior?

"Berhenti seperti itu! Kalian membuatku malu." ujar Sakura pada dua temannya yang sedari tadi menggodanya. Precillia terkekeh, gadis dua puluh tahun itu tergelak seketika. Merasa lucu dengan reaksi tak terduga Sakura. Tak disangkanya ternyata senior yang ia kagumi selama ini bisa malu seperti ini. Bahkan mengatakannya secara gamblang. Biasanya galak, ya?

"Haruno - san, kau sangat lucu. " Nagi ikut tergelak. Membuat Sakura tambah malu.

"Berhenti bicara seperti itu. Aku mau pergi menjenguk Kajou- san dirumah sakit." Nagi hendak bicara sebelum Sakura 
menyelanya, "Dan satu lagi, aku belum menikah! "

Setelahnya tanpa menunggu reaksi dari dua rekannya itu, Sakura berjalan pergi. Meninggalkan Nagi dan Precillia yang menampakan ekspresi bodoh.
.
.
.
"Kudengar, putra bungsu tuan Uchiha akan kembali dari Australia minggu depan." Ayah menampilkan ekspresi bahagia setelah mengatakannya. Kopi pahit didepannya tak menjadi alasan untuk tidak tersenyum bahagia.

Sakura hanya diam dan melanjutkan makan malamnya. Kali ini ia harus makan malam dengan tenang karena terakhir kali ia makan malam dirumah, ia harus memberikan jatah makan malamnya pada Kakaknya yang pulang dari luar negeri secara mendadak. Mendengarkan Ayahnya bicara adalah hal yang terbaik untuk saat ini.

"Iya, Mikoto sudah memberitahuku tadi," Ibu ikut menyahut. Sementara manusia merah disamping tempat duduk Sakura tengah mengawasi gerak gerik sang adik. Membuat Sakura risih.

"Jangan menatapku seperti itu, atau kau akan jatuh Cinta padaku, Nii-sama! " Sasori mendengus.

"Aku penasaran bagaimana reaksimu mendengar berita ini." jawab Sasori. Boro-boro bereaksi, ia saja tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Jangan bertanya kenapa? Bukannya Sakura tidak menginginkan hal ini, tapi Sakura saja belum pernah melihat bagaimana rupa pria itu. Bagaimana aku harus menyebutnya? Calon Suami?

"Aku sudah tahu." Ayah, Ibu, dan Kak Sasori langsung menatapku. Terdiam sepi.
Membuatku harus menghentikan makanku dan bergantian menatap mereka. 
"Kenapa?"
"Darimana kau tahu? Apa kau sud-"
"Aku bertemu dengan Otou-sama kemarin. Kami berada di penerbangan yang sama menuju Buthan. Kami berbincang sebentar sebelum ia pergi melanjutkan perjalanan bisnisnya. Jangan berpikir yang aneh-aneh, Nii-sama" sela Sakura sebelum Sasori berbicara yang tidak-tidak. Sasori menyipitkan matanya, curiga.

"Yahhh.. Aku rasa adikku ini sudah mulai akrab dengan calon mertua. Sebaiknya aku beritahu Itachi." selepasnya, Sasori berlari ke kamar dan mengunci pintu.

Ayah dan Ibu masih menatap Sakura.
"Ada apa Tou-sama? Kaa-sama?" mengabaikan rasa risihnya ditatap seperti itu, ia bertanya pada dua orang yang paling disayanginya itu.

"Apa kau sudah menerima ini? " tanya Ayah. Sakura terdiam sejenak, menatap ayam goreng didepannya. Menghela napas.

"Ya, aku mencoba menerimanya. Awalnya aku sangat tidak setuju. Lagipula aku belum pernah melihat pria itu dikeluarga Uchiha. Hal itu membuatku takut." Sakura mengambil air putih di meja. Meneguknya. Mencoba menghilangkan perasaan aneh yang dirasakannya.

"Syukurlah. Sebentar lagi kau akan melihatnya, Sakura." Ibu ikut berbicara. Sakura hanya mengangguk.
Tak perduli bagaimana rupanya dan apa pekerjaannya, ia akan belajar menerimanya. Sakura harus terima apapun yang Ayah dan Ibunya lakukan, selama itu untuk kebaikannya sendiri. Karena Sakura sangat menghormati kedua orang tuanya dan Sakura yakin pilihan Ayah dan Ibu adalah yang terbaik.

Setelah makan malam, Sakura kembali ke kamar yang berada di lantai dua dan bersebelahan dengan kamar Sasori. Mumpung Sakura sedang tidak ada kerjaan, ia memutuskan untuk mengunjungi Kakaknya. Tanpa mengetuk pintu, Sakura langsung masuk kamar.

"Nii-sama? " panggil Sakura, karena kamar bernuansa cokelat itu kosong ia berteriak memanggil. Tak ada jawaban. Sakura berjalan menyisiri kamar. Sampai didepan pintu kamar mandi, ia mendengar gemericik air dan senandung. Rupanya Sasori sedang mandi.

Memutuskan untuk menunggu, Sakura duduk ditempat tidur dan membaca buku milik Kakaknya itu.

"Economy Business. Astaga Nii-sama benar-benar anak Tou-sama. " Sakura bergumam setelah membaca buku tebal yang berada dikasur Sasori.

Sasori Haruno, pria usia dua puluh tujuh tahun. Beda enam tahun dari Sakura. Sasori adalah seorang pria karir yang sukses. Ia menjalankan bisnis Ayahnya yang bergerak dibidang Real Estate dan Properti. Perusahaannya sudah berkembang pesat setelah Sasori yang mengelolanya. Hampir setara dengan perusahaan milik keluarga Uchiha. 

Haruno Company, sudah memiliki banyak cabang di beberapa Prefektur di Jepang seperti Kyoto, Osaka, Ibaraki, Chiba, Fukouka, Yamanashi, Kansai, Tohoku, Ishikawa, dan beberapa kota besar lainnya.
Selepas Sasori yang menjadi Presiden Direktur di Haruno Company, Ayah lepas tangan dan menyerahkan semuanya pada Sasori. Awalnya, Ayah ingin Sakura juga memegang kendali perusahaan, namun Sakura tidak mau dan memilih berkarir dibidang lain.

Asal kalian tahu, Sasori masih melajang alias jomblo. Katanya sih tidak mau berurusan dengan perempuan dulu sebelum ia merasa serius dan mapan. Sasori memang sudah mapan secara finansial tapi belum dengan mentalnya. Sebaiknya kita tunggu kabar baik dari Sasori saja.

"Astaga! Apa yang kau lakukan disini, Sakura?" Sasori keluar dari kamar mandi dengan handuk membalut bagian bawahnya. Dada telanjang dengan otot di perut dan lengannya terlihat jelas. Ditambah lagi dengan air yang masih menetes, uhh.. sangat seksi. Hei! Jangan berpikir yang seperti itu atau kalian akan mimisan nanti.

"Aku bosan, Nii-sama. Temani aku berbincang." Sakura menatap penuh harap pada Sasori, membuat Sasori tak tega. Dengan senang hati ia mengangguk mengiyakan.

"Baiklah. Aku akan berpakaian terlebih dahulu." Sasori berjalan menuju lemari pakaian yang berada tak jauh dari tempat duduk Sakura.

"Apa kau akan berpakaian didepanku, Nii-sama?" Sakura masih menatap Sasori dengan pandangan datar. Astaga apa dia tidak merasa malu?
Melihat pria seksi dan tampan macam Sasori tengah telanjang dada didepannya. Satu ruangan pula. Apa Sakura tidak ada takut-takutnya kalau Sasori berbuat yang tidak-tidak padanya?

Oh, Aku lupa. Jika saja Sasori melakukannya, maka aku pastikan Sasori akan menginap dirumah sakit selama seminggu dengan tulang hidung patah. Wah...

"Tentu saja jika kau tidak keberatan." Sasori menyeringai mesum. Sakura hanya menatapnya lempeng.

"Oh.. Baiklah, aku akan melihatnya." Ia memperbaiki posisi duduknya menjadi berbaring tengkurap dengan posisi menatap Sasori. Apakah Sasori berani?

"Kau selalu bisa membuatku tidak berkutik. Jahat." Sasori menggerutu dan segera kembali ke kamar mandi dengan membawa pakaiannya. Hal itu mengundang tawa geli dari Sakura.
Setelah beberapa lama, Sasori keluar dari kamar mandi dengan pakaian piyama gelap. Dengan rambut masih basah dan handuk yang tersampir dileher. Sasori menghampiri tempat tidur dan duduk disamping Sakura.

"Ada apa?" tanya Sasori membuka pembicaraan. Sakura berdiri tanpa suara dan keluar kamar Sasori. 

Sasori hanya diam, ia tahu Sakura akan berganti piyama dan kembali kemari.
Beberapa menit kemudian Sakura kembali dengan memakai piyama merah muda dengan motif beruang putih. Rambut merah muda sepunggung digerai. Duh, imutnya...

Mengambil tempat duduk disamping Sasori. "Nii-sama, aku takut. Bagaimana jika pria Uchiha itu jelek? Kau tahu, Itachi- Nii sama saja keriput begitu. Bagaimana dengan saudaranya? " curhat Sakura dengan raut wajah yang imut. Membuat Sasori tak tahan dan mencubit pipinya.

"Uuhh.. Adikku ini sangat mengemaskan." Sasori menggoyangkan pipinya ke kanan kiri. Hal itu membuat Sakura sebal dan menatap tajam kakaknya. "Haha.. Maaf maaf. Tenang saja, aku yakin Uchiha bungsu itu sangat tampan. Asal kamu tahu, Itachi sangat tampan saat masa kuliah dulu. Dia bahkan dikerubungi banyak perempuan setiap hari." Sasori mengambil buku yang dipegang Sakura tadi. Hanya membukanya tidak dibaca.

Sakura menyipit, "Bagaimana kau begitu yakin jika Pria itu sangat tampan? Aku bahkan tidak tahu namanya? Nii-sama tahu? " tanya Sakura. Sasori hanya mengangguk.
Masih terlihat jelas raut gelisah dari adiknya itu. Membuat Sasori menyeringai penuh misteri.

"Bagaimana jika kita taruhan?" tantang Sasori. "Jika dia jelek maka kau harus membayar tiket perjalanan bisnisku dua minggu ke depan ke Italia." lanjutnya. Sakura terdiam sejenak. Memikirkan saldo tabungan direkeningnya.

"Jika dia tampan?" tanya Sakura.
"Aku akan membawamu ke Okinawa minggu depan dan ikut aku ke Italia selama tiga hari setelahnya. Kau bebas membawa siapapun." tawarnya. Wahh.. Menggiurkan. Tunggu! Ada yang salah?

"Sama saja aku yang membayar tiket ke Italia!" Sakura berseru kesal. Sasori tertawa keras. Menyenangkan sekali mengerjai adiknya ini.

"Baiklah baiklah. Jika kau kalah kau harus membawa calon suami ikut kita ke Italia besok."

"Setuju! " tanpa berpikir panjang Sakura setuju dengan taruhan itu. Tak peduli lagi seperti apa rupa calon suaminya itu asalkan ia bisa ke Italia gratis. Asal kalian tahu, selama dua tahun menjadi pramugari Sakura tak pernah sekalipun menginjakan kaki di negara pisa itu. Itu adalah negera yang paling ingin dia kunjungi. Dan sekarang, taruhan Kakaknya akan membawanya ke Italia jika ia menang tentunya tanpa harus membawa calon suaminya itu. Kesempatan bukan? Tapi jika ia kalah, sama saja dia akan pergi ke Italia namun bersama calon suaminya itu. Perduli setan, yang penting Sakura akan ke Italia.

"Baiklah. Sekarang pergilah tidur. Besok kau ada penerbangan, kan?" Sasori menepuk pucuk kepala Sakura kemudian berbaring. Sakura mengangguk, tapi ia malah beringsut mendekati Sasori. Diletakkannya kepala merah muda miliknya ke bantal sebelah Sasori. Heran, Sasori hanya bisa bertanya.

"Kenapa?" tanyanya. Sakura beringsut memeluk Sasori. Ia berbaring di dada Sasori. Tanpa banyak bicara, Sasori membalas pelukan Sakura. "Manja sekali kau hari ini. Biasanya juga ngajak berantem? "

"Aku ingin tidur bersama Nii-sama hari ini. Aku tidak tahu kapan lagi bisa tidur denganmu. Aku akan sibuk beberapa hari kedepan. Mungkin tidak pulang." Sakura memejamkan mata tapi tidak tertidur. Sasori hanya diam dan mengelus rambut adiknya.

"Kemana kau akan pergi besok?" tanya Sasori setelah beberapa saat terdiam.
"Florida."
"Emm.. Aku juga mungkin beberapa hari kedepan akan lembur. Ada sedikit masalah diperusahaan ayah."

Sakura mendongak menatap Sasori, namun hanya dagunya yang terlihat. Uhh.. Tinggi sekali kakaknya ini. "Jangan terlalu lelah atau kau akan sakit." Sakura mengeratkan pelukannya.

"Baiklah, tuan puteri. Mari kita tidur." Sasori membalas memeluk Sakura dan memejamkan mata.

Malam ini adalah malam terbaik bagi Sasori, karena bisa menghabiskan malam bersama adik tersayangnya. Ia tertidur dengan senyum Indah.
.
.
.
.
Queensland, Australia.
Emerald Airport, Qantas Air 373.
09:10 a.m

"Nice landing, Captain." Jordan Luke, co-captain Qantas Air 373 Maskapai Qantas Airline. Pria Australia dua puluh satu tahun. Tampan, mapan, baik pula.

"Hn," pria muda tampan dengan rambut raven membingkai wajah tampannya. Sasuke Uchiha, Captain Qantas Air 373 Maskapai Qantas Airline. Salah satu maskapai terbaik Autralia dan urutan empat maskapai terbaik dunia menurut Skytrax.

"Apa kau benar akan pindah, Kapten? Akan sangat menyenangkan jika kau tetap di Qantas." Jordan menatap Sasuke sembari melepas headphone yang terpasang di telinganya.

Sasuke hanya melirik dan mengangguk, "Ya, aku harus pindah." singkatnya.

"Kenapa?"

Sasuke menandatangani papan jurnal. 
"Ayahku ingin aku kembali ke Jepang dan bekerja di Maskapainya." jawab Sasuke serta menyerahkan papan jurnal itu pada Jordan.

"Sayang sekali. Semoga kau sukses disana, Kapten. Ngomong-ngomong kapan kau akan berangkat?"

Melepaskan sabuk pengaman dan lekas keluar kokpit. Sasuke berjalan keluar diikuti Jordan. "Minggu depan, aku akan bersamamu dihari keberangkatanku."

"Apa kau akan mengemudi atau menjadi penumpang?" Sasuke berhenti dan menatap Jordan. Tatapan datarnya menjadi jawaban Sasuke. Tanpa bertanya lagi Jordan mengerti dan mengangguk. Mereka melanjutkan perjalanan ke terminal.

"Dua hari kedepan adalah hari terakhir aku disini. Jadi mohon kerjasamanya." Sasuke Uchiha membungkuk sekilas pada Jordan setelah itu meninggalkan Jordan yang menampilkan wajah ternganga. Tak menyangka kaptennya itu bisa sopan seperti ini.
.
.
.
.
Queens Wharf Residence
11:21 a.m

Setelah penerbangan selama dua hari dari London, pulang pergi. Membuat Sasuke kelelahan, sehingga saat tiba di apartemen dia langsung merebahkan diri di kasur.

"Lelah sekali." gumam Sasuke. Ia beranjak dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia makan malam.

"Astaga! Tidak ada apa-apa." Sasuke hanya melihat beberapa buah tomat yang terlihat masih segar. Merasa malas untuk keluar mencari makan, Sasuke memutuskan untuk makan tomat yang berada di lemari es.

Sembari memakan buah atau bisa disebut sayuran kesukaannya, Sasuke meraih ponsel pintar dari tas pilotnya. Sejak penerbangan pulang kemarin ia tidak memegang ponsel sama sekali. 

Dinyalakannya ponsel dan menonaktifkan mode pesawat. Setelah beberapa saat menyala, masuklah banyak notif pesan.
Sasuke menhela napas membaca pesan dari ibu dan kakaknya. Disitu mengatakan agar Sasuke cepat pulang. 

"Menyebalkan"
Sebenarnya Sasuke tidak ingin kembali jika bukan karena permintaan Ayahnya. Ayahnya itu mengancam akan mencabut lisensi pilot milik Sasuke jika ia tidak pulang. Tipe seperti Ayahnya ini sangat cocok dengan Ibunya yang suka mengancam juga. Semoga Sasuke tidak meniru kedua orang tuanya ini.

Pesan terakhir yang dibacanya adalah dari kakaknya, Itachi Uchiha.

Sasuke! Cepatlah pulang sebelum calon adik iparku dibawa pria lain. Tadi aku melihat adik iparku itu dirumah sakit bersama seorang pria. Pulanglah bodoh!

Sasuke mendengus. 'Adik ipar' katanya. Sasuke menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. Mata hitamnya menatap langit-langit ruangan. "Sakura, ya?"
.
.
.
.
To be continue

Fanfic SasuSaku: Pilot of My Hearth


Chapter 1 - P

DLDR
.
.
.
"hei kau! Berhenti disana atau aku akan melemparmu keluar dari ketinggian tiga puluh lima ribu kaki. "

Seorang pramugari dengan paras cantik dan tubuh semapai mengancam seorang pria paruh baya yang berusaha melarikan diri dari kejaran pramugari.
Pria itu berhenti dengan wajah takut dan badan gemetar. "Apa salahku? Aku hanya suruhan dan dibayar. Aku membutuhkan uang untuk biaya pengobatan putriku yang sedang sakit." ia membela diri dengan wajah memelas.

"Berhenti dan menurut atau aku benar-benar akan melemparmu! Jika kau membutuhkan uang, seharusnya kau bekerja. Bukan malah membawa bom ditasmu! Itu berbahaya asal kau tahu! Nyawa dua ratus tujuh puluh penumpang dalam bahaya sekarang, apa yang akan kau lakukan, hah?! " hilang sudah kesabaran Sakura Haruno, pramugari cantik tadi. Pria itu tertunduk.

Sakura menghela napas. "Berapa lama lagi?"

"Um.. Aku memasangnya enam menit yang lalu, hanya tersisa dua puluh empat menit lagi," pria itu menjawab dengan nada takut karena tatapan semua pramugari dan penumpang yang berada di ekonomy class.

"......" hening.

"Haruno - san, bagaimana ini? " - Precilia William, terlihat risau. Gadis blesteran Inggris-Jepang ini dikenal tidak bisa mengontrol rasa takutnya. Kok bisa jadi pramugari?

"Jangan panik, hubungi kapten Nara! " Sakura berjalan mendekati pria itu. "Harus aku apakan, kau?"

Pria itu terlihat ketakutan, "Maafkan aku." suaranya terdengar lirih membuat Haruno Sakura mendesah pelan. Dibantunya pria itu berdiri dan dituntun menuju bisnis class dimana masih tersisa beberapa bangku kosong.

"Duduklah." Sakura mendudukan pria itu. "Siapa namamu?"
"...Kazaki,"
"Marga?"
"Yamachi," jawabnya pelan. Sakura terbelalak kecil.

"Ah, apa aku harus berbicara sopan padamu? " Sakura menanggapinya dengan senyuman.

"Tak perlu, keluargaku bahkan tak pantas menerima rasa hormat ataupun sopan dari orang lain" Sakura hanya mengangguk kecil.

Seorang pramugari datang ke hadapannya, "Haruno - san , Kapten Nara akan melakukan pendaratan darurat di Sanghai, 10 menit lagi" Sakura mengangguk paham.
"Ambilkan minum untuknya! Aku akan memberitahu penumpang," sebagai seorang manager kabin, hal ini adalah tanggung jawabnya.

"Perhatian! Karena keadaan darurat, pesawat ini akan mendarat di Sanghai International Airport. Sekali lagi, karena keadaan darurat pesawat akan mendarat di Sanghai International Airport. Harap pasang sabuk pengaman anda untuk keselamatan. "

Suara Sakura terdengar di penjuru kabin.
Sementara di kamar mandi, tempat bom itu berada. Hanya tersisa dua puluh menit lagi. Semoga masih sempat.

"Apa tujuanmu melakukannya? " tanya Sakura. Dipandangnya Kazaki dengan sorot ingin tahu.

"Disini ada penumpang, namanya Fugaku. Aku punya misi untuk menghabisinya." Sakura termenung sesaat. Kemudian menghela napas.  Hal ini mengundang tatapan dari rekannya.

"Anda mengenalnya, Haruno - san."
Hana, pramugari disebelahnya bertanya dengan nada ingin tahu. Sakura melirik sebentar.
"Dia.... "
"Haruno - san!! " ucapan Sakura terhenti karena teriakan salah satu pramugari yang tadi ia suruh menghubungi Kapten Nara lewat interkom.

"Jangan berteriak, Nagi" tegur Sakura pada gadis berambut pendek yang sedang berjalan cepat kearahnya. "Ada apa? "
"Kita tidak bisa mendarat dalam waktu lima belas menit. Landasan 31 ada pesawat mogok dan menara kontrol masih mengaturnya." jelas Nagi dengan raut khawatir.

"Bagaimana bisa mogok?"
"Suhu di Sanghai dibawah dua puluh delapan derajat membuat mesin pesawat membeku"

Sakura mendekat ke interkom, "Shikamaru, apa tidak ada landasan lain? Kita hanya punya waktu dua puluh menit. " Sakura mendesak kapten penerbangan. Semua pandangan tertuju kearahnya, Shikamaru?

"Mesin derek sedang membawa pesawat itu 
menyingkir. Hanya lima menit." Shikamaru menjawab dengan tenang. Membuat Sakura harus menahan bogeman untuknya nanti. Hei, mereka bersahabat. Tenang saja.
"Baiklah. Lima menit,"
.
.
.
.
Kokpit.
Captain Shikamaru Nara
Co-captain Kiba Inuzuka

"Sanghai tower, Sanghai tower. This is flight 322, JA 215 from Narita Airport to Paro Airport, Bhutan. requesting an emergency landing on runway 31. How are things there?" Kiba menghubungi menara control.
"JA 215, this is the sanghai tower. fly around three thousand feet high. We are here trying to bring the Boeing 777 from Runway 31"

"AY-firm"

"bagaimana? " Shikamaru masih memegang kontrol.

"Terbang memutar dengan ketinggian tiga ribu kaki, mereka sedang berusaha menarik boeing 777 dari landasan 31."

"Mendokusai na" Shikamaru mengecek ketinggian pesawat, hampir mendarat. 

"Three thousand feat high!"
"Three thousand feet high, confjrm." balas Kiba . 
"Sampai kapan kita akan berputar? "
"Kau yang menghubungi tower, sialan! " balas Shikamaru sengit. Sementara Kiba hanya menyengir sebagai balasan.

Ding

"Ya, Kapten Nara disini" jawab Shikamaru kepada interkom yang berada di telinganya yang menghubungkan kokpit dengan kabin.
"Shikamaru, ini akan meledak sepuluh menit lagi. Tidak bisakah kita mendarat? Ini sudah lebih dari lima menit" suara Sakura terdengar. Shikamaru menatap jam tangan yang berada di pergelangan.
"Tunggu sebentar Sakura. Kita tidak bisa ambil resiko. Jikapun kita mendarat sekarang maka sama berbahaya dengan ledakan bom."
"Apa tidak ada cara lain?"
Shikamaru terdiam, matanya menerawang kedepan yang dimana memperlihatkan langit biru.
"Shika, kita bisa membuka pintu darurat." Kiba menyahut dengan ekspresi -aku sangat berguna- nya.
Hal itu membuat Shikamaru terdiam.
"Kita akan mengalami dekompresi jika pintu dibuka. Lagipula... -"
"Tidak Shika, kita tidak berada diketinggian jelajah. Jadi, tidak akan menyebabkan dekompresi eksplosif. Hanya melempar tas bom. "  Sakura memotong ucapan Shikamaru.
"Sakura benar." sahut Kiba yang memberi saran? Shikamaru terdiam.
"Baiklah, aku akan membawa pesawat ini ke lembah terdekat. " putus Shikamaru. "Kiba hubungi tower! Sakura, kau bisa membuka pintu darurat, kan?"
Dari sana Sakura mengangguk, "ya! Aku akan meminta bantuan kepada yang lain. Terima kasih kapten." setelahnya sambungan telepon kabin terputus.
"Kiba, kau bisa mengecek keadaan?"
Kiba menangguk, "Aku akan membantu Sakura. Kau tau, dia adalah pramugari kesukaanku jadi aku harus menolongnya. Yoshh! "
Banyaklah songeh kau!
.
.
.
.
"Kajou- san, bantu aku membuka pintu darurat! Dan bawa tas itu" Sakura berbicara dengan tenang, dalam situasi ini pun harus tenang jika tidak maka penumpang akan panik. "Nagi, tolong beritahu penumpang jika kita akan membuka pintu darurat. Pastikan mereka mengerti cara memakai masker oksigen jika sewaktu-waktu terjadi dekompresi eksposif, " jelas Sakura.

"Baik, Haruno - san. " setelah itu Sakura pergi bersama pramugara bernama Kajou.

"Ladies and gantleman, we will open the emergency door. therefore, we urge passengers to wear oxygen masks in the event of explosive decompression. Our cabin crew will give instructions. please cooperation, thank you."

semua awak kabin berdiri di samping dan depan bangku penumpang untuk memberikan arahan.

Sementara itu Sakura dan Kajou. "Kita akan membuka pintu darurat yang berada di dekat dapur. Disana ada pengaman seperti pegangan dan telepon kabin, jadi kapten Nara bisa memberitahu jika kita sudah sampai lembah. jadi ketika kapten Nara sudah memberitahu, kau buka pintu ini. Jangan lupa berpegangan agar kau tidak terhempas keluar." jelas Sakura dan dibalas anggukan dari rekannya.

"Tersisa berapa menit lagi?! " tanya Sakura pada Kajou yang tengah membawa tas itu. Kajou membukanya, terlihat timer berwarna merah menunjukan waktu berjalan kurang dari lima menit.

"Apa kita masih sempat, Haruno - san? " Kajou nampak tegang. Sakura menepuk bahu Kajou dengan disertai senyum menenangkan. "Kita pasti bisa! Yakinlah pada Kapten."

Ding

"Halo, manager kabin Sakura Haruno. " Sakura mengangkat telepon kabin. Pasti dari Kapten Nara.

"Tiga menit lagi kita sampai lembah terdekat. Berapa waktu tersisa.?" tanya Shikamaru dari kokpit.

"Hanya tersisa tiga menit juga."

"Jangan putuskan telepon! Aku akan 
memberitahumu. Untuk itu bisa kau buka pintu darurat?"

"Baiklah" Sakura memberi kode pada Kajou untuk membuka pintu. Dengan ekstra tenaga Kajou membuka pintu.

Wushhh

Tekanan udara mulai terasa, Sakura dan Kajou berpegangan pada pengaman yang berada dekat pintu. Mencoba bertahan dari hempasan angin. "Berapa lama lagi Shikamaru?" tanya Sakura dengan suara keras. Pasalnya angin sangat kencang dan seolah menyedot oksigen yang berada diparu-parunya.

Timer bom terus berjalan menunjukan waktu tinggal lima belas detik lagi. "Dua belas detik lagi, Shika! " teriak Sakura.
.
.
.
.
Kabin

Para penumpang tengah menggunakan masker oksigen dengan rasa penuh ketakutan. Seolah bom benar-benar akan menghancurkan pesawat ini.

Boomm!!

"Aaaa! " sebagian penumpang berteriak terkejut. Suara ledakan begitu keras hingga membuat pesawat terguncang.
Beberapa saat kemudian keadaan mulai kondusif, udara mulai normal hingga penumpang tak perlu memakai masker oksigen.

"Haruno - sanKajou - sanKalian baik-baik saja? " seorang pramugari menghampiri Sakura dan Kajou. Terlihat Sakura dengan rambut acak-acak karena angin dan seragam pramugari dengan atribut tidak rapi. Sementara Kajou terlihat lebih berantakan dengan jas terbuka memperlihatkan kemeja yang keluar dari celana, dasi hampir terlepas dari kerahnya dan rambut seperti tersengat listrik.

"Ouh, kalian terlihat kacau."

"Bagaimana keadaan penumpang?" tanya Sakura langsung tanpa menyahut ucapan pramugari tadi.

"Semua baik-baik saja. Mereka hanya sedikit takut saat pesawat terkuncang. " jawaban pramugari itu membuat Sakura menghela napas lega. Atensinya teralih kepada Kajou yang sedari tadi mengambil napas banyak -banyak dan terduduk lemas
.
"Kajou - san! Kau baik-baik saja?" tanya Sakura panik. Pasalnya Kajou nampak seperti tidak bisa bernapas.

"Ambilkan oksigen! " perintah Sakura. Pramugari itu segera berlari kearah dapur tempat menyimpan alat medis. Sakura meraih Kajou dan meletakan kepalanya di paha. Mencoba membuat Kajou lebih nyaman.

"Bertahanlah!"
"Haruno - san! Ini oksigennya. Nagi menyerahkan oksigen itu dengan tergesa.
"Oksigen ini tidak akan bertahan lama." ujar Sakura sambil memompa oksigen itu. Kajou nampak lebih tenang namun masih berusaha bernapas dengan baik.
"Tanya apakah ada dokter disini! "
.
.
.
.
"Para penumpang yang terhormat. Terdapat pasien darurat di penerbangan ini. Jika diantara anda sekalian ada seorang dokter, mohon untuk memberitahu pramugari kami. Terima kasih"

"Permisi, nona. Saya adalah seorang dokter." seorang pria berwajah tampan menghampiri Nagi yang sedang berjalan sembari menanyai apakah ada dokter disini.

"Ah, syukurlah. Mari tuan ikut saya." pria itu mengikuti Nagi menuju bilik dimana Kajou dan Sakura berada.
Sesampainya pria itu dibilik. "Tolong selamatkan dia! " pinta Sakura dengan nada panik. Pria itu lekas memeriksa Kajou yang nampak kesusahan bernapas.

"Oksigen ini tidak akan bertahan lama jika kondisinya seperti ini. Bisakah kita lekas mendarat? " dokter itu berujar sembari menatap Kajou yang beralih dipangkuan Nagi.

Ding

"Kapten Nara berbicara disini. Bagaimana kondisi di kabin?"

"Shikamaru! Tambah kecepatan pesawatnya. Kajou mengalami sesak napas setelah membuang bom itu. Oksigen di kabin tidak akan bertahan lama." Sakura berbicara dengan panik dan tergesa. Pandangannya tak teralih sedikitpun dari Kajou yang tidak bisa bernapas dengan dokter tengah memeriksanya.

"Dikokpit masih ada dua oksigen. Kau bisa gunakan itu sementara aku akan segera membawa pesawat ini mendarat."

"Baiklah. Aku akan membawa Kajou kesana." Sakura menutup telepon kabin dan lekas memberitahu dokter itu. Mereka membawa Kajou menuju kokpit.

"Kiba, beritahu tower untuk menyediakan ambulans! " perintah Shikamaru. Ia lekas mengatur ketinggian pesawat agar cepat sampai bandara.

"Sanghai tower, Sanghai tower. this is flight 322, JA 215 from Narita Airport to Paro Airport, Bhutan. emergency patients here, please provide our ambulance to land soon."

"Kita akan mendarat. Tolong pakai sabuk pengaman kalian." ujar Shikamaru kepada penumpang darurat di belakang kursinya.
.
.
.
.
"Sanghai tower, Sanghai tower. this is flight 322, JA 215 from Narita Airport to Paro Airport, Bhutan. we request landing priority on runway 31."

"this is Saghai tower. permission is given for landing priority on runway 31. we have prepared ambulances and police in the appron"

"AY-firm! "
.
.
.
.
"Wah kau lihat tadi, sangat menegangkan. Pramugari tadi sangat berani ya."

"Iya, tapi syukurlah kita semua selamat."
"Penyeludup itu sudah ditahan polisi. Sementara pramugara tadi lekas dibawa ke rumah sakit."
Ucapan penumpang tumpang silir. Mereka membicarakan kejadian tadi dipesawat. Banyak diantara mereka yang masih syok dan ketakutan, namun pramugari sudah menenangkan mereka meskipun mereka sendiri juga ketakutan.

"Sakura." seorang pria paruh baya menghampiri Sakura yang masih berdiri dan berbincang dengan petugas ambulan. Terlihat Sakura mengangguk ketika petugas itu bertanya apa ia baik-baik saja.

Menoleh, "Ah, Uchiha - sama." Sakura membungkuk hormat pada pria berwajah datar itu. Uchiha Fugaku berdiri dengan didampingi beberapa bodyguard. Orang sukses beda yah.

Matanya memandang Sakura tajam, merasa tak senang dengan panggilan Sakura padanya. Hal itu membuat Sakura bergidik takut dan gugup sekaligus.

"Ahhaha, maksud saya Otou-sama." lanjutnya dengan nada cangung. "Anda baik-baik saja?" tanya Sakura. Suara deru mobil ambulan dan sirine terdengar ketika ambulan yang membawa Kajou menjauh.

"Aku baik-baik, saja. Kau juga nampaknya." jawab Fugaku khas dengan gaya nya yang berbicara singkat. Sakura hanya tersenyum seraya mengangguk. "Kau sangat hebat. Kuharap dia melihatnya." Fugaku berkata dan segera berlalu diikuti bodyguardnya.
Sakura tersenyum tipis. Ya, Sakura harap ia melihatnya. 

"Ekhem.. Ternyata dia ayah mertuamu?" goda Precilia dan Nagi yang tertawa geli di sampingnya. Membuat Sakura hanya tersenyum malu. "Jadi dimana suamimu?" tanya Nagi.

Sakura hendak menjawab tetapi  sudah disela oleh Nagi. "Apa dia tampan? Ayahnya tadi juga tampan walaupun sudah tua dan mukanya itu datar sekali." buru-buru Nagi menutup mulutnya yang asal bicara itu. Memandang Sakura dengan mata 
menyesal. Sakura hanya menggeleng pelan. 

"Tak apa. Memang Otou-sama selalu begitu, tapi sebenarnya dia baik dan perhatian." jawab Sakura.
Setelahnya mereka berbicara sembari berjalan. Tak lupa godaan Precilia dan Nagi yang pelak membuat Sakura menahan malu sekaligus kekesalannya.
.
.
.
.
To be continue